Tatkala kita dahulu masih gemar mengoleksi game fisik berwujud kaset, disket, maupun keping CD dalam wadah plastik beraroma khas pabrik, hadir sebuah sensasi kepemilikan riil yang begitu memuaskan batin. Barang tersebut betul-betul berada di tangan kita, bebas ditaruh di lemari kamar, dipinjamkan ke rekan tetangga, serta cukup dibayar sekali guna dimainkan sampai masa depan tanpa dituntut urusan sambungan internet.

Kini masa kejayaan yang indah tersebut telah sirna ditelan waktu dan bergeser menuju era serba digital yang tampak begitu praktis namun menyimpan jebakan tersembunyi. Saat ini, tatkala kita memencet tombol transaksi di etalase toko digital lalu menyedot puluhan gigabyte data ke ruang penyimpanan PC ataupun konsol, pada kenyataannya kita sebetulnya tak pernah betul-betul memegang kepemilikan atas produk tersebut. Kita sejatinya sekadar menebus selembar izin pakai digital yang izinnya sewaktu-waktu dapat dibatalkan oleh pihak penerbit game tanpa perlu meminta izin kita sedikit pun.

Membeli Game Era Sekarang Sekadar Berstatus Sewa?

Realitas kepemilikan semu semacam ini kian mengesalkan tatkala kita mencermati sejumlah preseden buruk yang menerpa beberapa judul karya skala besar belum lama ini. Tengok saja game adu kecepatan racikan Ubisoft, The Crew, yang dipadamkan sistem peladennya secara sepihak dan hak kepemilikannya malah dicabut dari daftar pustaka para pengguna yang sebelumnya sudah menggelontorkan biaya penuh. Selain diputus dari akses daring, para pemain sama sekali tak memperoleh jalan keluar untuk menikmati konten pemain tunggal secara luring lantaran berkas permainannya dilenyapkan begitu saja dari etalase.

Tindakan agresif seperti ini membuktikan secara gamblang bahwa di hadapan korporasi zaman sekarang, fulus bernilai ratusan ribu sampai jutaan rupiah yang dikeluarkan tiap masa semata-mata dihitung selaku ongkos sewa waktu lama sampai sang penerbit menilai judul tersebut tak lagi mendatangkan cuan guna dirawat terus-menerus.

Situasi pelik ini semakin runyam seiring maraknya model langganan bulanan serta keterikatan karya masa kini terhadap komputasi server pusat bersama sistem perlindungan DRM semacam Denuvo yang berjalan luar biasa ketat. Bahkan pada rilisan yang berfokus penuh terhadap petualangan sendiri alias pemain tunggal, banyak perancang yang tanpa alasan masuk akal mewajibkan sambungan dunia maya aktif secara berkelanjutan sekadar demi mengecek izin kepemilikan akun.

Kala studio perancangnya gulung tikar, peladen pemeriksa izin pun serta-merta ikut padam selamanya. Hal serupa berlaku ketika masa izin lagu serta merek kendaraan di dalam permainannya kedaluwarsa, alhasil barang yang sah kita beli mendadak beralih menjadi tumpukan sampah digital yang mustahil diakses kembali. Kita mau tak mau cuma bisa menelan pil pahit bahwasanya di zaman serba komputasi ini, para penikmat game sejatinya cuma berstatus tamu numpang lewat pada ekosistem kepunyaan raksasa bisnis.

Kenyamanan Produk Digital yang Sulit Ditolak

Apakah kondisi ini menuntut kita menyetop transaksi karya digital lantas berbalik menikmati konsol masa lampau? Tentu saja alternatif semacam itu kurang masuk akal mengingat kemudahan format unduhan amat sukar dikesampingkan di rutinitas serba cepat saat ini. Akan tetapi selaku konsumen yang bertambah cerdas, kita setidaknya patut mulai terjaga sekaligus lebih berani mengkritisi aturan perizinan yang disodorkan kalangan penerbit.

Menyokong toko digital atau pengembang yang berani menghadirkan berkas instalasi mandiri bebas proteksi DRM seperti gerai GOG, maupun ikut menyuarakan perlindungan hak-hak konsumen digital melalui berbagai gerakan advokasi, adalah sumbangsih nyata yang bisa kita jalankan bersama. Pasalnya andai publik senantiasa berdiam diri serta memaklumi skema sewa berkedok jual beli kepemilikan tersebut, jangan merasa heran apabila di masa mendatang segenap koleksi favorit dalam akun game kamu musnah lenyap begitu saja tanpa jejak.

Bagaimana pandanganmu brott, apakah dirimu tergolong pihak yang pasrah menerima ketetapan lisensi digital era kini, ataukah masih sering merindukan nikmatnya mengoleksi wujud fisik game di sudut kamarmu?

Temukan sajian informasi menarik di Gamebrott seputar Tech maupun ulasan sejenis yang senantiasa memikat persembahan Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected]