JAKARTA — Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), menegaskan urgensi perhitungan pasokan daya listrik serta air pada pendirian pusat data kecerdasan buatan (AI) di Jatiluhur, Purwakarta. Dia mewanti-wanti supaya derasnya arus modal industri ini tidak merugikan pemenuhan sumber daya bagi fasilitas publik.
"Kita tentu punya kebutuhan kemampuan komputasi yang memerlukan data center. Namun di saat yang bersamaan, kita harus melihat kecukupan energi. Tidak boleh kecukupan energi terganggu untuk hal-hal lain, terutama untuk layanan publik," kata Meutya di Kantor Komdigi, Rabu (7/10/2026).
Dirinya turut menggarisbawahi bahwa aspek suplai air mesti menjadi faktor pertimbangan utama saat menetapkan zona data center. Penunjukan tempat operasional harus selaras dengan kapasitas daya tampung alam di wilayah setempat.
"Penentuan titiknya harus diperhitungkan matang: ada ketersediaan air atau tidak di situ, ada kecukupan energi atau tidak, dan apakah akses sinyalnya bagus," tuturnya.
Meutya memberi peringatan keras agar kawasan nusantara tak asal dibanjiri proyek data center tanpa kalkulasi yang cermat. Penataan infrastruktur teknologi tersebut perlu berjalan terencana sekaligus selektif.
"Buffer atau penjagaan itu penting supaya kita tidak dibanjiri. Kita harus betul-betul pilih-pilih lokasi sesuai kebutuhan dan tidak boleh berlebihan karena ada trade-off yang harus dipertimbangkan," tegas Meutya.
Sebelumnya, pendirian pusat data komputasi AI garapan BDx Data Centers di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, menarik perhatian publik usai disetop sementara oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Proyek jumbo bernilai Rp3,5 triliun tersebut dipaksa berhenti beroperasi lantaran persyaratan legalitas belum tuntas, terutama Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang tengah berproses.
(Rahman Asmardika)