Tag: PHK Game

Pengembang Ghost of Tsushima, Sucker Punch Pangkas Puluhan Pekerja

Gelombang pemutusan hubungan kerja belakangan terus melanda beragam bidang, terutama industri game skala rintisan hingga korporasi raksasa. Situasi ini turut menimpa Sucker Punch, studio yang memproduksi dua judul ternama Ghost of Tsushima serta Ghost of Yotei.

Developer tersebut dikabarkan baru saja memangkas sejumlah staf dari tim mereka. Seperti apa rincian kabar pengurangan tenaga kerja ini?

Pengurangan Karyawan di Studio Sucker Punch

Mengutip laporan media Aftermath, penuturan bekas pegawai membeberkan bahwa sekitar 26 pekerja terkena imbas pemecatan saat badai PHK melanda Sucker Punch.

Lewat surat elektronik internal, manajemen studio menegaskan kebijakan pahit tersebut diambil “setelah mengamati dengan cermat tantangan di pasar dan meninjau kebutuhan tim untuk proyek kami berikutnya, kami telah memutuskan untuk melakukan pengurangan jumlah karyawan. Akibatnya, beberapa posisi di seluruh Sucker Punch akan dihapus.”

Pesan surel tersebut juga memaparkan bahwa langkah restrukturisasi tidak diputuskan secara serampangan. Jajaran pimpinan Sucker Punch mengungkapkan mereka “telah memberikan perhatian yang besar terhadap hal ini dan berupaya mendukung rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini sebaik mungkin.”

Usai menuai reputasi gemilang melalui Ghost of Tsushima, studio menghadirkan Ghost of Yotei yang sukses besar di kalangan pemain hingga mencatatkan penjualan teratas PlayStation sejak peluncuran perdana. Konten ekspansi terbarunya, Echoes of Sekigahara, pun menuai banyak ulasan hangat dari pengamat industri.

Hingga tulisan ini dipublikasikan, Sony sama sekali belum membeberkan keterangan resmi menyangkut motif di balik perampingan staf tersebut. Bagaimana pandangan kalian mengenai kabar duka ini, Brott?

Simak terus ulasan atraktif Gamebrott seputar Berita Game maupun tulisan lain persembahan Nadia Haudina. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected].

Analis Ungkap Studio Game Jepang Catat Angka PHK Lebih Rendah Dibanding Luar Negeri

Sepanjang beberapa tahun belakangan, gelombang pemutusan hubungan kerja massal sering menghantam studio game hingga berujung pada penutupan serta pembubaran operasional. Fenomena tersebut memicu kegelisahan mendalam di lingkungan industri video game.

Seorang analis membeberkan fakta bahwa studio game asal Jepang mencatat angka PHK tenaga kerja yang jauh lebih minim bila disandingkan dengan studio luar negeri. Lantas, bagaimana rincian pandangan sang analis mengenai situasi ini?

Tinjauan Analis Mengenai Minimnya Kasus PHK pada Pengembang Game Jepang

Mengacu pada pemaparan Amir Satvat selaku analis dari ASGC Games Industry Layoffs Tracker, ia memetakan situasi industri video game saat ini. Fokus utamanya menyoroti tren pemecatan pekerja yang terus terjadi tanpa henti di ranah video game.

Amir Satvat menguraikan bahwa entitas asal Jepang semacam Capcom dan Konami sanggup mengamankan angka retensi pekerja di atas 97%. Baginya, para developer serta publisher asal Negeri Sakura tersebut memilih menjaga stabilitas pondasi bisnis, ketimbang mendongkrak budget proyek demi membesarkan tim hingga berisi ratusan atau bahkan puluhan ribu tenaga kerja.

Simak kutipan pandangan Amir Satvat di bawah ini.

Tim di Jepang biasanya berukuran jauh lebih kecil serta efisien. Mereka pun tidak gampang tergiur arus tren format live-service atau memaksakan diri memproduksi karya mega-blockbuster yang melibatkan tim berisi 500 orang.

Faktor Pendorong Lain Versi Analis

Amir Satvat menambahkan alasan kenapa developer Jepang layaknya Capcom enggan memburu tren live-service yang rentan berfluktuasi. Hal tersebut disebabkan fokus mereka tertuju pada waralaba atau IP legendaris yang digemari publik, sembari meluncurkan langkah baru untuk memperkuat kedekatan dengan kalangan gamer wilayah Barat.

Di samping itu, Amir Satvat menyoroti jurang pendapatan serta bonus pimpinan studio game yang terbilang fantastis. Ia mengungkapkan terdapat eksekutif yang berhasil mengantongi dana pribadi melampaui $30 juta pada tahun silam, justru di tengah badai PHK yang mendera ratusan pegawainya.

Sebagai komparasi, pimpinan perusahaan game di Jepang menerima kompensasi tahunan bernilai sekitar $2 juta sampai $3 juta. Nominal itu memperlihatkan selisih yang luar biasa kontras apabila dikomparasikan dengan jajaran eksekutif dari luar Jepang.

Demikianlah paparan sang analis perihal mengapa pengembang video game Jepang lebih minim terdampak PHK daripada studio global. Apa penilaian kamu mengenai pandangan yang diutarakan Amir Satvat ini?

Simak pula informasi menarik Gamebrott lainnya seputar Studio Game maupun karya tulisan lain dari Muhammad Faisal. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected].

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén