Tag: PlayStation 5

Phantom Blade Zero Diprediksi Tuntas Sekitar 30 Jam, Hadirkan Aksi Padat Tanpa Grinding

Hampir tiga warsa berlalu sejak pengembang S-Game pertama kali memperkenalkan proyek Phantom Blade Zero ke publik. Kini, karya yang mengusung konsep visual serta pertarungan ala ‘Kung Fu Punk’ tersebut segera menyapa para pemain dalam jangka waktu di bawah tiga pekan ke depan.

Pihak kreator belum lama ini membeberkan sejumlah wawasan memikat seputar proses perancangan Phantom Blade Zero lewat sesi wawancara bersama Inven Global. Poin krusial yang dibagikan yaitu estimasi penamatannya yang berkisar 30 jam, khususnya bagi para gamer yang terbiasa menaklukkan judul-judul aksi berkategori menantang.

Meskipun durasi tersebut tampak relatif singkat untuk sebuah produksi megah berskala AAA masa kini, Liang Qiwei atau yang akrab disapa Soulframe selaku sutradara game menegaskan pentingnya kepadatan impresi bermain yang disuguhkan.

“Bagi pemain yang sudah mahir, kami memperkirakan satu playthrough penuh akan memakan waktu sekitar 25 hingga 30 jam. Tentu saja, durasi bermain bisa berbeda tergantung seberapa sering Anda terjebak saat melawan suatu boss,” ungkap Liang Qiwei.

Ia menambahkan, “Kami percaya yang terpenting bukan sekadar seberapa panjang durasi game, melainkan seberapa padat pengalamannya. Kami tidak ingin pemain mengulang hal yang sama hanya untuk mengumpulkan resource atau berkeliling tanpa tujuan di map yang kosong. Elemen-elemen seperti itu sebisa mungkin kami hindari. Aktivitas sampingan juga dirancang untuk memperkaya cita rasa dunia Wuxia dan Kung Fu. Kuncinya adalah memastikan pemain terus merasa seperti pendekar pedang yang benar-benar tangguh selama bermain.”

Kabar menggembirakan hadir untuk para pemburu trofi Platinum maupun raihan capaian seratus persen, sebab sang pengarah memastikan seluruh penghargaan tersebut dapat disapu bersih hanya lewat satu putaran permainan saja.

Keterlibatan Sosok Bintang Laga Donnie Yen

Sebelumnya telah dikonfirmasi bahwa bintang seni bela diri ternama Donnie Yen ikut andil mengambil peran figur penting di Phantom Blade Zero, tepatnya menjadi sosok ayah kandung dari tokoh sentral.

Tidak sebatas berakting, figur legendaris ini diketahui memegang tugas sebagai Creative Consultant sejak 2023 demi merancang seluruh arahan koreografi perkelahian tangan kosong serta senjata tajam di dalam game.

Phantom Blade Zero dijadwalkan meluncur resmi pada tanggal 28 Oktober bagi para pemilik perangkat PC serta konsol PlayStation 5.

Lantas, bagaimana pandanganmu menyikapi kabar peluncuran game ini, brott? Bagikan tanggapan terbaikmu langsung pada ruang komentar di bawah.

Simak terus ulasan atraktif serta tulisan seru lainnya karya Andy Julianto. Untuk informasi lengkap maupun korespondensi redaksi, silakan hubungi kontak [email protected].

Sony Perkenalkan Quick Spectral Super Resolution, Fitur Upscaling AI Khusus PS5 Standar

Sony resmi menghadirkan inovasi upscaling bertenaga kecerdasan buatan untuk konsol PS5 standar lewat kehadiran Quick Spectral Super Resolution (QSSR). Pengumuman ini mendapat sambutan hangat dari kalangan gamer, mengingat fitur serupa sebelumnya yakni PSSR (PlayStation Spectral Super Resolution) hanya dihadirkan secara eksklusif bagi pengguna PS5 Pro. Lantas, seperti apa mekanisme kerja serta mutu visual yang ditawarkan?

Pengumuman Resmi Teknologi Quick Spectral Super Resolution untuk Konsol PS5 Standar

Melalui publikasi di laman blog resminya, pihak Sony PlayStation memaparkan bahwa Quick Spectral Super Resolution merupakan varian yang lebih ringan dari PSSR, dirancang khusus menyesuaikan GPU konsol PS5 edisi standar. Fitur anyar ini merupakan buah kolaborasi Project Amethyst antara Sony bersama AMD, yang memanfaatkan arsitektur jaringan neural lebih hemat daya agar dapat beroperasi optimal di perangkat berkapasitas hardware lebih terbatas.

Walaupun tingkat presisinya tidak setara dengan PSSR milik PS5 Pro, kemampuan visual QSSR terbukti jauh melampaui teknik upscaling konvensional yang terpasang pada PS5 standar saat ini. Tampilan grafis terlihat semakin tajam, terutama saat menampilkan detail objek berukuran mikro seperti pola bangunan kejauhan maupun helai rumput, sekaligus menghadirkan kestabilan gambar yang meminimalkan artefak pecah.

Dukungan Awal Baru Tersedia untuk Marvel’s Wolverine Serta Ghost of Yotei

Untuk saat ini, implementasi QSSR baru diintegrasikan ke dalam dua judul game saja, yakni Marvel’s Wolverine dan Ghost of Yōtei. Sejumlah developer terkemuka seperti Insomniac Games dan Sucker Punch Productions telah melontarkan apresiasi positif, sebab fitur ini berhasil meningkatkan kejernihan piksel serta konsistensi grafis di dalam dunia game mereka.

Di samping itu, Sony memastikan QSSR akan dibagikan kepada seluruh developer naungan PlayStation Studios agar makin banyak game yang segera mengadopsinya. Kehadiran opsi upscaling canggih ini juga bersifat fleksibel, di mana gamer bebas mengaktifkan maupun mematikannya melalui menu pengaturan konsol.

Anda dapat mengamati mutu visual teknologi mutakhir tersebut lewat tautan di bawah ini.

Demikian ringkasan mengenai perkenalan teknologi Quick Spectral Super Resolution pada PS5 standar oleh pihak Sony. Bagaimana penilaian Anda mengenai mutu pemrosesan grafis anyar ini?

Simak terus berita menarik Gamebrott seputar PS5 atau pantau ulasan lain dari Arif Gunawan. Untuk pertanyaan lebih lanjut, hubungi [email protected].

Klasifikasi Usia GTA VI Terkuak ke Publik, Mengindikasikan Hadirnya Adegan Dewasa Eksplisit

Dalam waktu dekat, judul GTA VI yang amat ditunggu oleh para pencinta game global bakal segera melakukan debut perdana pada konsol PlayStation 5. Menyongsong momentum peluncuran yang kian mendekat, rincian terkait batasan usia pemain GTA VI telah beredar luas di jagat maya. Berdasarkan kabar yang tersiar, terdapat petunjuk kuat bahwa seri terbaru ini bakal menyajikan konten hubungan intim dewasa. Benarkah demikian?

Batasan Usia GTA VI Bocor ke Publik, Diduga Menyisipkan Muatan Percintaan Dewasa

Mengacu pada data yang terpampang di etalase digital PlayStation Store kawasan Selandia Baru serta Australia, karya teranyar garapan Rockstar Games ini secara sah dimasukkan ke dalam klasifikasi umur “Restricted 18”.

Sebagai catatan, penetapan batas usia ini merujuk langsung pada regulasi ketat milik otoritas Selandia Baru. Lembaga sensor Selandia Baru menyatakan game garapan Rockstar ini memuat rangkaian materi khusus dewasa, mencakup konsumsi narkotika terlarang, aksi kekerasan brutal, visual tanpa busana, pemakaian kata-kata makian kasar, hingga tampilan adegan bersenggama secara langsung.

Bukti tangkapan layar mengenai ketentuan tersebut dapat Anda cermati pada bagian bawah ini.

Fakta Menarik Bila Dibandingkan Seri GTA V

Pencantuman label hubungan badan secara eksplisit oleh dewan pengawas Selandia Baru tentu mengundang tanda tanya besar sekaligus keheranan di tengah kalangan pemain. Pasalnya, riwayat waralaba GTA selama ini memang kerap memperlihatkan adegan ranjang, namun sajian tersebut biasanya diputar melalui sudut kamera alternatif, memakai metafora visual khusus, ataupun terkena pembatasan sensor.

Satu-satunya skandal lampau yang secara gamblang mengekspos aktivitas ranjang layaknya mini-game interaktif hanyalah peristiwa heboh “Hot Coffee” dalam GTA San Andreas. Kontroversi besar itu terus melekat kuat di benak penggemar sekaligus menjadi blunder fatal bagi pihak pengembang sampai akhirnya fitur bermasalah tersebut ditarik keluar dari peredaran.

Sewaktu dilakukan pengecekan lebih mendalam, terdapat perbedaan mencolok saat menyandingkan ketentuan umur GTA VI bersama pendahulunya, GTA V. Ketika memeriksa laman produk GTA V pada etalase PlayStation Store wilayah Selandia Baru, game lawas tersebut sejatinya menerima kategori serupa, yakni “Restricted 18”.

Kendati demikian, deskripsi resmi GTA V sama sekali tidak menyinggung perihal tindakan sanggama oleh lembaga Selandia Baru. Walaupun dalam cerita GTA V sendiri sesungguhnya terdapat setidaknya satu potongan adegan mesra kendati tidak seekstrem insiden “Hot Coffee”. Deskripsinya kala itu cuma mencantumkan peringatan narkoba, dialog kasar, konten seksual sugestif, serta tindak kekerasan.

Sampai catatan ini dirilis pada tanggal 2 Oktober, belum ada keterangan yang amat pasti mengenai alasan pencantuman label aktivitas ranjang tersebut. Mengingat warisan budaya waralaba ini dan latar belakang tokoh utama yang merupakan pasangan sepasang kekasih, wajar kiranya bila GTA VI memang menyajikan interaksi sedemikian intim.

Kita nantikan saja perkembangan resmi dari pihak pengembang Rockstar, pembaruan badan sensor wilayah lain, atau kepastiannya ketika GTA VI meluncur 19 November 2026 mendatang di platform PS5.

Simak terus ulasan seru Gamebrott berikutnya seputar GTA ataupun karya jurnalistik lain persembahan Muhammad Faisal. Untuk kebutuhan informasi lanjutan serta korespondensi, silakan hubungi redaksi melalui [email protected].

Bocoran Minigame GTA VI: Mulai dari Jet Ski hingga Mini Golf Siap Hadir

Minigame GTA VI — Menjelang peluncurannya pada bulan November ini, deretan fitur gameplay GTA VI mulai diungkap ke publik demi menjawab rasa penasaran para penggemar yang sudah lama menanti.

Di antara segudang mekanisme yang tersedia, para pemain dapat mencoba bermacam-macam minigame sebagai sarana rehat dari alur kisah utama. Lantas, apa saja kegiatan sampingan yang bisa dimainkan?

Rincian Minigame GTA VI

Berdasarkan laporan Gameinformer, di samping aksi backyard wrestling yang menampilkan tokoh Jason bergulat melawan siapa pun di depan 50 penonton pada cuplikan terdahulu, GTA VI turut menyajikan variasi permainan mini seru lainnya.

Sejumlah aktivitas sampingan yang telah dipastikan mencakup biliar, base jumping, pusat kebugaran, kayaking, mini golf, scuba diving, kunjungan kebun binatang, jet ski, air boat, balap liar jalanan, serta balapan off-road.

Kabar ini terkuak menyusul beredarnya kira-kira 12 tangkapan layar gameplay anyar. Selain itu, wilayah Leonida yang menjadi latar primer dinobatkan sebagai peta terluas sepanjang sejarah waralaba, lengkap dengan sistem cuaca dinamis serta keanekaragaman satwa liar yang siap dijelajahi.

Demikian ringkasan mengenai aneka minigame GTA VI. Tertarik mencobanya langsung, Brott? Game ini dijadwalkan meluncur resmi pada 19 November 2026 untuk konsol PlayStation 5 serta Xbox Series X/S.

Simak terus ulasan memikat Gamebrott lainnya seputar Berita Game atau tulisan menarik dari Nadia Haudina. Hubungi [email protected] untuk pertanyaan lebih lanjut serta kebutuhan lainnya.

Review Ace Combat 8: Wings of Theve

Dalam waktu dekat, seri terbaru waralaba legendaris garapan Project Aces, Ace Combat 8: Wings of Theve, dipastikan meluncur pada 2 Oktober 2026 mendatang. Kehadiran entri anyar ini memicu antusiasme besar di kalangan penggemar simulasi penerbangan tempur militer yang tak sabar kembali mengarungi konflik geopolitik fiktif dan drama perang berskala masif. Menjelang perilisannya, kami berkesempatan menguji coba ulasan Ace Combat 8: Wings of Theve lebih awal melalui konsol PlayStation 5. Melalui puluhan jam sesi permainan, kami merekam beragam pengalaman mendalam, mulai dari narasi perang berbalut intrik hingga pertempuran dogfight berkecepatan tinggi melawan armada musuh yang agresif.

Ulasan Lengkap Ace Combat 8: Wings of Theve

Ace Combat 8: Wings of Theve kembali mengajak kita menyelami semesta fiksi Strangereal pada tahun 2029, bertepatan dengan berkobarnya Perang Sotoa-Usea. Lini masa cerita ini berlangsung persis sepuluh tahun pasca berakhirnya Perang Mercusuar (Lighthouse War) dalam Ace Combat 7: Skies Unknown. Mengikuti tradisi khas waralaba, pemain memegang kendali atas seorang penerbang militer berbakat yang bertugas menuntaskan rangkaian misi strategis di sepanjang perang tersebut.

Ketegangan geopolitik meledak saat Sotoa mendadak melancarkan serangan kilat berskala penuh terhadap Federation of Central Usea (FCU). Invasi mematikan ini dilancarkan menggunakan senjata bombardir kinetik orbital canggih bernama “Tonitrus Spears”. Serangan kinetik tersebut meluluhlantakkan infrastruktur pertahanan vital di penjuru wilayah FCU guna memuluskan ambisi Sotoa menundukkan kedaulatan negara target. Pada awal kampanye, Anda sebagai Silent Protagonist awalnya hanya menjadi pendamping patroli bersama pilot legendaris bergelar “Wings of Theve”, Jan “Rex” Cope. Namun, insiden genting memaksa protagonis mengambil alih gelar “Wings of Theve”, menjadi komandan skuadron Joker, dan memikul tugas menggagalkan agresi militer Sotoa di FCU. Keberhasilan menahan laju gempuran armada tempur sepenuhnya ditentukan oleh kecakapan Anda di kokpit jet tempur.

Pendekatan Narasi yang Lebih Sinematik dan Relevan bagi Pemain

Penyegaran paling mencolok dalam Ace Combat 8: Wings of Theve terletak pada presentasi naratifnya. Pada seri terdahulu seperti Ace Combat 7, cerita kerap dipaparkan lewat sudut pandang karakter sampingan sehingga protagonis terasa bagai figuran di luar drama utama. Di instalasi kedelapan ini, Project Aces memetik pelajaran penting. Mulai dari adegan sinematik hingga komunikasi radio selama misi, sorotan kamera dan narasi berfokus langsung pada diri protagonis. Terlebih lagi, gelar “Wings of Theve” yang disandang memberi justifikasi naratif kuat mengapa peran Anda begitu sentral di mata kawan maupun lawan.

Hampir seluruh sinematik dirancang memakai sudut pandang personal sang protagonis. Pendekatan ini membangun keterikatan emosional mendalam di sepanjang alur cerita. Dialog antar-karakter selalu melibatkan peran Anda, menegaskan betapa krusialnya kehadiran Anda dalam pusaran konflik. Perombakan penyutradaraan ini menjadi nilai tambah signifikan bagi penggemar lama yang merindukan kontribusi nyata sang pilot pada jalan cerita. Berkat padatnya adegan sinematik dan komunikasi dialog yang kaya interaksi antar-anggota skuadron, durasi kampanye cerita utama terasa jauh lebih panjang dan substansial. Ditinjau dari penulisan naskah, game ini sukses menarik pemain masuk ke dalam kisahnya sebagai penerbang “Wings of Theve”.

Beralih ke sektor teknis, gameplay Ace Combat 8: Wings of Theve tetap berpijak pada DNA simulasi tempur semi-arkade yang memacu ketegangan. Bagi yang pernah memainkan Ace Combat 7, Anda akan segera menyadari berbagai penyempurnaan menyeluruh dalam sensasi kemudi yang lebih realistis dan berbobot. Hal ini terasa jelas saat mengeksekusi High-G Turns. Setiap pesawat memiliki karakteristik dinamika fisik unik disertai tarikan gravitasi dan hambatan bobot nyata saat membelokkan hidung pesawat secara ekstrem. Sensasi fisik ini menghadirkan pengalaman berbeda dibanding Ace Combat 7, di mana beberapa jet terasa memiliki impresi kendali yang mirip. Terlihat jelas komitmen Project Aces memformulasikan sensasi kendali unik pada setiap pesawat di hangar, khususnya jet tempur modern berlisensi militer nyata.

Rancangan misi operasional tetap konsisten memompa adrenalin pemain dalam duel udara sengit. Variasi penugasan mencakup dogfight konvensional, misi pengawalan dan perlindungan aset strategis dari bombardir, hingga penyusupan taktis berketinggian rendah guna menghindari deteksi radar musuh. Ketegangan melonjak drastis saat Anda berhadapan dengan pesawat eksperimental canggih atau benteng bergerak raksasa berpariasi artileri dan rudal mematikan. Mengingat ancaman target tersebut, armada musuh sering kali memfokuskan seluruh daya tembak kepada Anda, dipicu oleh reputasi “Wings of Theve” yang menebar teror psikologis bagi komando Sotoa. Mekanisme gameplay ini terbukti berhasil mempertahankan daya pikat simulasi aviasi militer yang intens.

Sektor visual Ace Combat 8: Wings of Theve menghadirkan pencapaian grafis luar biasa yang memanjakan mata. Berkat perspektif orang pertama yang konsisten, kualitas permodelan karakter pendukung dapat diamati sangat detail dari dekat. Ketelitian model, keluwesan animasi berbasis motion capture, serta perancangan aset lingkungan pangkalan militer dan teater konflik digarap dengan standar tinggi. Detail eksterior jet tempur berpadu harmonis dengan bentang lanskap atmosferis yang memesona di tengah marabahaya ancaman musuh dan artileri darat. Meskipun skala daratan disesuaikan demi efisiensi komputasi, resolusi dan ketajaman tekstur objek geografis tetap terjaga saat terbang rendah. Dari segi grafis, game ini menyuguhkan pesona visual memukau, baik dalam adegan sinematik maupun pertempuran aktif.

Selaras dengan tradisi pendahulunya, Ace Combat 8: Wings of Theve dipersenjatai tata suara dan soundtrack orisinal bertenaga. Di tengah pertempuran, seorang personel skuadron Joker akan memutar lagu tema penyemangat. Komposisi audio didominasi perpaduan orkestra simfoni megah dan dentuman musik rock berenergi tinggi yang efektif memompa ritme laga. Efek suara lingkungan turut mengesankan, mulai dari raungan mesin jet supersonik, peringatan sensor pelacak rudal yang melengking tegang, hingga gemuruh ledakan udara. Kualitas vokal para pengisi suara dalam menghidupkan karakter militer juga sangat solid. Tata suara dan audio game ini diproduksi dengan brilian serta menjadi elemen yang sangat memuaskan dinikmati.

Apakah Ace Combat 8: Wings of Theve layak dimainkan? Jawabannya sangat layak, terutama bagi pencinta simulasi tempur aviasi dan komunitas setia semesta Ace Combat. Integrasi aktif sang tokoh utama ke dalam narasi mematahkan pola lama, memberikan kepuasan tersendiri saat memegang peran penting sebagai kartu as “Wings of Theve”. Kedalaman simulasi fisika penerbangan pada tiap jet tempur juga dirancang spesifik dengan bobot inersia nyata.

Kendati memiliki limpahan nilai positif, game ini bukan tanpa kekurangan. Catatan kelemahan pertama bermuara pada implementasi Quick Time Event (QTE) dalam adegan sinematik, di mana pemain dituntut menekan tombol input tertentu hanya agar adegan bergerak maju. Padahal, tindakan minor tersebut akan lebih elegan bila berjalan otomatis via skrip sinema. Kelemahan yang lebih problematis adalah kemunculan prompt QTE di tengah pertempuran aktif guna memaksa kamera menyorot target tertentu. Ketika penguncian pandangan paksa aktif, simulasi pertempuran dan laju pesawat tetap berjalan real-time tanpa jeda. Akibatnya, pemain kehilangan orientasi spasial dan kendali di depan kokpit, memicu risiko tabrakan dengan pesawat musuh, tebing karang, atau menukik bebas ke permukaan tanah.

Mekanika pengalihan visual dramatis tersebut semestinya didukung fitur jeda otomatis atau autopilot pintar guna menjaga lintasan jet tetap aman. Bagi penggemar veteran, kompromi desain ini mungkin tidak merusak pengalaman bermain. Namun, disorientasi ruang akibat mekanisme QTE tersebut berpotensi menimbulkan kebingungan bagi pemain pemula yang baru pertama kali mencicipi waralaba ini.

Secara keseluruhan, Ace Combat 8: Wings of Theve sukses menghadirkan formula gameplay teruji dengan pembaruan krusial pada simulasi penerbangan serta presentasi narasi sinematik yang jauh lebih memikat bagi pemain.

Dituding Pakai Generative AI di Game Wolverine, Insomniac Beri Klarifikasi

Game Marvel’s Wolverine garapan Insomniac Games akhirnya resmi meluncur di konsol PlayStation 5. Walau kehadirannya sangat diantisipasi para penggemar, penerimaan terhadap judul ini justru terbelah, mulai dari minimnya konsekuensi kegagalan hingga dialog yang dirasa melenceng dari karakter komik aslinya.

Belakangan ini, Marvel’s Wolverine diterpa rumor pemakaian Gen AI pada elemen visual tertentu yang memicu perdebatan luas di kalangan gamer. Menanggapi polemik tersebut, pihak Insomniac langsung merilis pernyataan resmi guna meluruskan spekulasi yang beredar liar.

Klarifikasi Resmi Insomniac Terkait Tudingan AI di Wolverine

Kabar miring ini awalnya mencuat via akun Twitter/X beridentitas @ShitpostRock, yang mengunggah tangkapan layar penanda toilet pria dalam game Wolverine dengan bentuk simbol yang tampak kacau dan tidak proporsional.

Pengunggah lantas mempertanyakan potensi keterlibatan teknologi kecerdasan buatan pada proyek bernilai 300 juta Dolar AS tersebut, sembari menegaskan bahwa unggahan itu murni tanda tanya tanpa maksud menuduh sang pengembang secara sepihak.

Unggahan itu mendadak viral di jagat maya sampai James Stevenson selaku Community Director Insomniac turun tangan memberi penjelasan. Stevenson membantah keras tuduhan tersebut dan memastikan bahwa Marvel’s Wolverine tidak memakai Generative AI sama sekali.

Ia menguraikan bahwa distorsi visual tersebut murni terjadi akibat kerusakan atau bug pada UV Map, yang jadwal perbaikannya telah disiapkan. UV Map sendiri merupakan metode pemetaan tekstur model 3D memakai sistem koordinat horizontal (U) serta vertikal (V).

Kendati sebagian warganet tetap skeptis, Ian Fisch yang merupakan pengembang game Kingmakers turut mengutarakan pandangannya. Ia meyakini anomali itu identik dengan eror pada UV mapping ketimbang ciri visual cacat buatan mesin AI.

Terlebih lagi, gambar yang diperlihatkan akun ShitpostRock memuat dua wujud tekstur yang sangat kontras, sehingga mempertegas bukti bahwa kejanggalan tersebut murni kendala teknis dari sistem UV Map.

Simak terus kabar menarik lainnya di Gamebrott perihal Berita terkini atau tulisan seru dari Javier Ferdano. Untuk informasi serta pertanyaan bisnis lebih lanjut, silakan hubungi [email protected].

Ukuran File Final Fantasy VII Revelation Bakal Tembus 200GB, Jauh Lampaui Rebirth

Pihak Square Enix tengah mematangkan proyek Final Fantasy VII Revelation yang dijadwalkan meluncur pada 2027 mendatang. Sekuel ini bakal menjadi babak akhir dari perjalanan panjang Cloud di Midgard.

Sebagai pamungkas trilogi, kapasitas memori yang dibutuhkan Final Fantasy VII Revelation diprediksi melonjak drastis dibanding para pendahulunya. Lantas, seberapa masif kapasitas file yang disiapkan untuk game JRPG ini?

Ukuran Final Fantasy VII Revelation Kian Membengkak Dibanding Rebirth?

Mengutip sesi wawancara VGC dengan Naoki Hamaguchi selaku Director Final Fantasy VII Revelation, ia menanggapi isu kewajiban unduhan data ekstra pada versi fisik, yang mengindikasikan lonjakan ukuran file game tersebut.

Hamaguchi membenarkan kabar itu dan memperkirakan besaran datanya bisa menyentuh angka 200GB. Ia menyadari hal ini bakal memicu reaksi gamer, namun ia menegaskan proses optimasi masih berjalan demi menyiasati kendala hardware.

Sebagai gambaran, instalasi Final Fantasy VII Remake menghabiskan ruang berkisar 100GB, sedangkan Rebirth memerlukan kapasitas 145GB. Berdasarkan lonjakan data tersebut, Revelation digadang-gadang menyajikan konten yang jauh lebih kaya dan luas.

Apabila ketiga seri ini dipasang bersamaan, total kapasitas yang tersita mencapai 445GB, menghabiskan nyaris 2/3 memori bawaan PS5 generasi pertama yang berkapasitas 885GB.

Final Fantasy VII Revelation dijadwalkan meluncur 8 April 2027 untuk PlayStation 5, Xbox Series X/S, Nintendo Switch 2, serta PC via Steam dan Epic Games Store.

Simak terus ulasan seru Gamebrott lainnya seputar Berita maupun tulisan dari Javier Ferdano. Untuk kebutuhan informasi lebih lanjut serta kerja sama, silakan hubungi [email protected].

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén