TOKYO – Badan Antariksa Jepang resmi mengawali sebuah ekspedisi ambisius yang dirancang untuk menjadi penjelajah perdana yang menjejakkan kaki di salah satu satelit alami Mars, sekaligus membawa pulang serpihan material permukaannya menuju Bumi.

Roket H3 pengangkut wahana penjelajah Martian Moons eXploration (MMX) sukses melesat ke angkasa dari Pusat Antariksa Tanegashima pada hari Senin (19/10/2026), sesuai tayangan siaran langsung yang dirilis oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA).

Apabila agenda penjelajahan ini berjalan mulus tanpa kendala, sekurang-kurangnya 10 gram material tanah Phobos ditargetkan tiba di Bumi pada 2031 mendatang, di mana manuver pendaratan awal direncanakan berlangsung sekitar dua tahun lagi.

Hingga saat ini, belum pernah ada instrumen antariksa buatan manusia yang mampu mendarat di Phobos ataupun satelit Mars yang berukuran lebih kecil, Deimos. Uni Soviet sebelumnya sempat memberangkatkan sepasang wahana antariksa pada 1988, tetapi seluruh armada tersebut gagal merampungkan target kerja mereka.

Pesawat Phobos 1 dilaporkan hilang kontak bahkan sebelum tiba di orbit Mars menyusul kekeliruan transmisi instruksi dari pengendali Bumi yang merusak kendali orientasinya. Sementara itu, Phobos 2 sempat bertugas hampir dua bulan lamanya guna meneliti Mars serta Phobos, sebelum kendala komunikasi menghentikan misi sehingga membatalkan peluncuran dua modul pendarat mungil bawaannya.

Upaya lanjutan dari Rusia bertajuk Fobos-Grunt yang diniatkan memulangkan sampel juga berakhir kandas pada 2011 silam, lantaran sistem pendorong roketnya mengalami disfungsi fatal dan gagal melontarkannya melintasi orbit Bumi ke arah Mars.

JAXA memproyeksikan wahana MMX dapat mencapai orbit Mars sekitar Agustus atau September 2027 untuk mengawali observasi ilmiah, sebelum akhirnya menerjunkan rover khusus pada akhir 2028 atau permulaan 2029. Ekspedisi ini membawa sebuah wahana penjelajah gabungan Prancis-Jerman berbobot 25 kilogram berjuluk IDEFIX, yang bakal diturunkan ke daratan Phobos guna menggelar studi intensif sepanjang kurang lebih 100 hari. Wahana induk lantas berupaya mendarat sebanyak dua kesempatan untuk mengumpulkan bongkahan sampel berharga. MMX diprogram melakukan penerbangan lintas mendekati Deimos pada 2030, sebelum akhirnya modul pemulangan bertolak pulang ke Bumi.

Misi menembus Phobos memicu rintangan rekayasa teknologi luar angkasa yang amat kompleks. Satelit alami Mars ini membentang sepanjang 27 kilometer pada titik terlebarnya, serta mempunyai gaya tarik gravitasi terlampau mini bagi operasional manuver orbit dekat standar. Sebagai pemecahannya, MMX bakal menyesuaikan garis edarnya mengitari Mars selaras dengan pergerakan Phobos, memungkinkannya berfungsi layaknya kuasisatelit pendamping bulan mini tersebut.

Kalangan peneliti menaruh harapan besar bahwa sampel materi yang diperoleh kelak mampu menguak teka-teki apakah Phobos tercipta dari lontaran material tabrakan dahsyat di Mars, ataukah sekadar asteroid liar yang terjebak tarikan gravitasi sang planet merah.

Material batuan dan tanah Mars sebenarnya telah dikoleksi serta diuji langsung di permukaan planet lewat beberapa misi eksplorasi terdahulu. Robot penjelajah Perseverance milik NASA pun telah memilah dan menyimpan material untuk dijemput ke Bumi, meski kolaborasi pemulangan sampel bersama Badan Antariksa Eropa (ESA) mengalami penghentian dukungan anggaran awal tahun ini.

Di sisi lain, proyek Tianwen-3 besutan China berpeluang mendatangkan material tanah dari permukaan Mars langsung ke Bumi secepat-cepatnya pada kurun waktu 2031.

(Rahman Asmardika)