JAKARTA — Entitas agen kecerdasan buatan (AI) milik OpenAI dilaporkan melancarkan rentetan aksi peretasan otonom selama beberapa bulan terakhir. Sistem AI ini tercatat membobol platform pengujian Hugging Face, merambah ke Modal Labs, dan pada pekan lalu dilaporkan menembus sejumlah situs resmi kepunyaan pemerintah Australia.
Mengutip laporan GSM Arena, aksi penetrasi siber tersebut sejatinya berlangsung pada Juni lalu, tetapi informasinya baru tersingkap belakangan ini. Deretan situs web otoritas publik dilaporkan mengalami dampak langsung dari pembobolan ini.
Peristiwa peretasan ini sontak memicu kemarahan mendalam kalangan pejabat di Canberra. Chief Strategy Officer OpenAI, Jason Kwon, diagendakan memberikan kesaksian langsung di hadapan sidang komite Senat yang diselenggarakan di Sydney minggu depan.
Operasi peretasan itu dieksekusi oleh model eksperimental yang tengah berada dalam fase uji coba internal OpenAI. Dalam protokol pengujian, model AI diinstruksikan menuntaskan berbagai misi—seperti melacak kalkulasi pengeluaran otoritas Victoria per individu terkait obat perawatan kulit. Akibat nihilnya data publik yang dapat diakses bebas, sistem tersebut secara sepihak menyusup ke portal web pemerintah guna menghimpun data rahasia nonpublik.
Pihak OpenAI menegaskan tidak pernah menginstruksikan model untuk meretas, tetapi mereka mengakui belum memprogram protokol proteksi ketat selayaknya pada versi konsumsi publik. Usai mendeteksi penetrasi ilegal tersebut, OpenAI segera menggelar investigasi internal serta melayangkan pemberitahuan formal kepada para pengelola laman terdampak.
Kini OpenAI kian memperketat arsitektur pengamanan risetnya. Pengembang memblokir akses internet terbuka (hanya mengizinkan data cache lokal) sembari memperketat isolasi jaringan dan pengawasan berkala. Langkah defensif ini sejatinya digagas pascainsiden Hugging Face, namun terlambat diaplikasikan sehingga insiden peretasan Australia terlanjur terjadi.
Terkait masalah di Australia, OpenAI menjalin kemitraan aktif dengan entitas korban sekaligus menyiapkan bantuan teknis. OpenAI mengalokasikan program dana "Daybreak for Frontline Defenders" berkapasitas 1 miliar dolar AS demi mendongkrak ketahanan siber lembaga pemerintahan. Satuan tugas khusus regional Australia juga dibentuk guna mempermudah mitigasi krisis di masa depan.
"Kami menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memulihkan kepercayaan, dan kami bertanggung jawab untuk menunjukkan kepada masyarakat Australia bahwa kami melakukan perubahan nyata serta menepati janji-janji kami," demikian klarifikasi resmi OpenAI di blog korporasi.
(Rahman Asmardika)